Tragedi panti Asuhan (2023)

Namaku Dinda, kini aku menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas negeri di kota sebelah.
Siang ini, selepas mengikuti kegiatan keorganisasian di kampus, aku dijemput oleh kekasihku, Bima.

"Bim! " teriakku dari depan ruang kesenian.
Bima yang sudah menungguku di halaman kampus yang tidak jauh dari tempatku berdiri, melambaikan tangannya padaku. Akupun berlari kecil mendekat padanya.

"Udah lama ya?" tanyaku sambil bergelayut manja pada lengan Bima yang kokoh. Bima menoleh padaku sambil memamerkan barisan gigi putihnya.

"Baru 10 menit kok, Sayang," ujarnya sambil mencubit hidungku pelan.

"Hehe ... Ya udah yuk. Jalan. " aku segera naik ke jok belakang motor Bima.

"Besok jadi ke rumah Tania?" tanya Bima sedikit berteriak karena suara bising mesin kendaraan yang lalu lalang di jalanan.

"Jadi sayang...," sahutku ikut berteriak juga.

Tania adalah sepupuku yang tinggal di Ibukota. Dan besok aku akan menemuinya karena sudah 3bulan terakhir dia tak kunjung memberi kabar pada keluarganya. Tanteku akhirnya meminta bantuanku untuk menengok ke kosnya. Dia seorang mahasiswi juga disebuah perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta.

======

Aku dan Bima naik kereta menuju Jakarta. Kebetulan di sana kami akan dijemput oleh teman kami yang kuliah satu kampus dengan Tania.

"Bim! " teriak seseorang dari kejauhan sambil melambaikan tangannya pada kami.

"Reno, kan itu, yang?" tanyaku sambil masih tetap menatap pria di ujung sana.

"Iya, Reno. Yuk samperin," ajak Bima sambil menggandeng tanganku.

"Bro ... Sis ... Gimana perjalanan?" tanya Reno sambil menyalami kami bergantian.

"Lancar jaya, Bro,"kata Bima santai.

"Kamu udah lama, Ren?" tanyaku.

"Hmm... Baru 15 menit lah," terang Reno sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Ya udah yuk, langsung ke kosan Tania,"ajakku tak sabar.

Kami naik mobil Reno menuju tempat kos Tania.

"Nah, ini nih tempatnya," ucap Reno ke arah bangunan di depan kami.

Bangunannya bertingkat dengan beberapa kamar ada ditiap lantainya. Mirip apartement. Tapi lebih sederhana. Kami bertiga segera turun dan masuk. Setelah bertanya-tanya pada orang yang lalu lalang, kami berhasil menemukan kamar Tania.

"Tan ... Tania ...," panggilku diikuti suara ketukan pintu beberapa kali.

Namun hening.
Semua saling tatap dengan wajah bingung. Tak lama ada seorang wanita yang akan keluar dari kamar sebelah Tania.
"Maaf, Mba ...," panggilku sambil mendekat padanya.

Dia menoleh pada kami dan menatap kami satu persatu.
"Ada apa, ya?" tanyanya heran.

"Mba ... Tau nggak, pemilik kamar kos ini ke mana? " tanyaku sambil menunjuk kamar Tania.

Seketika wajahnya pucat.
"Maaf saya nggak tau! " ucapnya tergesa gesa sambil menenteng beberapa tas ditangannya

"Mba ... Mba ... Tolong kami. Kami jauh-jauh ke sini buat cari Tania. Udah 3 bulan dia ilang. Nggak ada kabar. Mba... Tolong, apa yang mba tau soal Tania? " bujukku dengan tatapan mengiba.

"Iya, Mba. Tania ke mana emangnya kenapa mba kayak ketakutan gitu?" tanya Reno ikut menanggapi.

"Dia ... Dia hilang sekitar 3,5 bulan lalu. Beberapa penghuni kos nggak tau dia kemana, tapi kami juga kadang melihat dia, entah di tangga, koridor, lobby, bahkan kemaren yang tinggal di kamar sebelah situ!"tunjuk lnya ke kamar depan Tania,"juga melihat Tania berdiri di balkon kamarnya. Hanya, tiap kami tegur dia nggak ada respon. Bahkan dia aneh. Gosip yang beredar, dia udah ... Mati. " ucapnya pelan pada kata 'Mati'.

"Hah? Yang bener, Mba. Jangan main-main mba sama omongan," cetus Reno agak takut.

"Kalau kalian nggak percaya, ya udah terserah. Itulah alasan saya pindah kos. Saya takut sebelahan sama kamar kos angker ... Ih ...," katanya bergidik ngeri lalu melenggang begitu saja.

Kami bertiga menjadi tegang. Kulihat gurat ketakutan pada wajah kedua pria di hadapanku ini.
"Gimana?" tanya Bimo.

(Video) Membongkar Misteri Panti Maut - Aiman Eps 102 bagian 1

"Aku mau masuk! Aku harus cek sendiri. Mungkin ada petunjuk di mana Tania." Paksaku lalu berjalan ke depan kamar Tania.

Klek
Klek
Klek

Handle pintu ku buka beberapa kali. Namun terkunci.
Kuintip keadaan di dalam dari lubang kunci. Dan...

"Astaga! Tania! " pekikku lalu menatap Bima dan Reno.

"Hah? Yang bener, Din!" Reno terkejut lalu ikut mengintip dari lubang kunci.

"Tadi aku liat ada Tania lagi jalan," jelasku ke Bimo yang sedari tadi masih diam.

"Nggak ada ah, Din! Ngigo lu ah! " cetus Reno.

"Ya ampun bener loh, Ren. Coba aku liat lagi! " kudorong Reno agar menyingkir. Dan kembali ku intip kamar Tania dari lubang kunci.
Dan lagi lagi, aku melihat Tania yang masih memakai baju tidur berwarna putih lewat begitu saja. Dia seperti sedang mondar mandir di dalam.

"Tuh, kan! Iya bener! Dia ada di dalem loh. Buka deh, Yang! Buruan! " pintaku ke Bima dengan sedikit memaksa.
Bima dan Reno saling pandang lalu mendobrak pintu kamar Tania.

Braaaaak!

Pintu berhasil dibuka paksa. Namun, kami bertiga malah terpaku di depan pintu. Entah kenapa suasana kamar Tania agak aneh.

"Serius nih, mau masuk? Tadi aja tu cewek bilang ni kamar horor loh, Din. Tania udah jadi setan! Gue ogah ah masuk," tolak Reno.

Aku tak memperdulikan Reno lalu masuk ke dalam begitu saja.
"Udah, masuk!" paksa Bima dengan menarik tangan Reno mengikutiku masuk ke dalam.

Sampai di dalam, kamar ini masih kelihatan rapi, hanya di meja ruang tamu banyak kertas-kertas berserakan. Akupun mendekat dan memungut selembar kertas yang ternyata ini adalah tugas-tugas kampus Tania yang mungkin sedang dia kerjakan.

"Sayang ..., " panggil Bima.

Aku menoleh dan mendapatinya sedang duduk di meja komputer Tania yang masih menyala.

"Kenapa, Bim?" tanyaku mendekat.
Reno pun ikut mendekat.

"Nggak ada petunjuk apa-apa," terang Reno.

"Liat nih," tunjuk Bima ke komputer Tania.

Ku kernyitkan kening sambil mengamati lebih rinci.
"Ini apa sih?" tanyaku penasaran.

"Kamu nggak tau ini apa?" tanya Bima malah balik bertanya padaku.

"Deep web! " ucap Reno dingin.

"Apa? Deep web?" tanyaku bingung.

"Kamu nggak tau deep web?" tanya Bima.

"Hmm... Iya, aku tau. Tapi maksudnya kenapa Tania buka situs ini?" tanyaku penasaran.

Bima mulai melihat komputer Tania dan sangat berkonsentrasi.

"Liat nih! Tania lagi buka situs tentang Human trafficking! " kata Bima antusias.

Dan di sana, ada beberapa video yang dapat kami tonton tentang perdagangan manusia. Bagaimana mereka di culik dan lalu disekap.
Ada yang dijual, sebagai pramuria, ada yang disiksa, bahkan... Dibunuh.

Kami terus melihat video itu sampai habis, dan video terakhir. Lokasinya...
APARTMENT TANIA?!

Kami bertiga saling pandang, ketegangan mulai kami rasakan saat tau lokasi video terakhir ada di sini.
Terlihat di video itu ada beberapa orang datang dengan pakaian serba hitam dan memakai penutup wajah. Lalu terus berjalan mencari cari sesuatu atau bahkan seseorang.
Hingga mereka berhenti didepan kamar ini.

(Video) The Dying Rooms | kasus orphanage china | Panti Asuhan Di China | Viral Tiktok | Dhea Ortela

"Tunggu! Serius gue takut beneran sekarang. Mending kita lapor polisi aja, terus mereka yang urus deh," pinta Reno.

"Tunggu, Ren! Kita liat dulu video nya. Lagian kita nggak bisa sembarangan lapor polisi kalau belum ada bukti yang kuat," terang Bima masih terus melihat video itu.

Akupun sependapat dengan Bima, walau jujur aku takut akan apa yang kami lihat. Aku takut membayangkan yang terjadi pada Tania.
Kami kembali fokus melihat kelanjutan video itu, walau Reno terus merengek ingin pergi.

"Tuh, Tania!" tunjuk Bima.

Tania terlihat memakai baju tidur putih lalu membuka pintu dengan santainya. Orang- orang tadi merangsek masuk ke dalam dan langsung membekap mulut Tania, mengunci pintu. Kemudian mereka mengikat Tania pada sebuah kursi kayu yang ada di tengah ruangan. Kami menoleh ke kursi itu yang ternyata letaknya masih ada dan sama seperti di video. Bima menatapku dengan seolah sedang mengajukan pertanyaan yang tidak tau apa, dan aku hanya mengangguk pelan menanggapinya. Bima kembali melanjutkan video itu. Tania yang sudah dalam keadaan diikat, lalu didekati oleh salah satu pria bertubuh tambun dengan sebilah pisau yang kurasa sangat tajam. Tania meronta agar bisa terlepas, pria itu mengarahkan pisaunya ke wajah Tania lalu menggoresnya perlahan. Darah mengalir dari pipinya. Tak hanya pipi, tapi leher lengan semua tak luput dari benda tajam berkilau itu. Hanya dalam hitungan menit, tubuh Tania penuh luka sayatan. Kini pria itu mendekatkan pisaunya ke mata Tania. Entah kenapa tidak ada suara sedikitpun dari video itu. Hanya gambar saja. Dan aneh, siapa yang merekamnya.

Jleeeeb!

Mata Tania ditusuk dan dicongkel keluar dari tempatnya. Tania terlihat kesakitan dan berteriak namun tidak terlihat tanda-tanda orang lain masuk untuk menolongnya. Apakah kos ini saat itu sepi? Atau suara Tania memang tidak dapat didengar orang lain?

Aku menutup mataku dan benar benar ketakutan melihat hal itu.
"Udah! Aku nggak mau liat. Aku nggak kuat! " aku beranjak dari kursi samping Bima, dan Reno kini malah penasaran pada video itu. Aku berjalan ke arah balkon kamar karena tidak tahan dengan adegan kekerasan itu. Semilir angin menerpa tubuhku dan rasa dingin mulai kurasakan. Namun Dinginnya lain. Tiba tiba aku mencium bau busuk yang cukup menyengat. Hingga kututup hidungku rapat rapat. Tapi, aku kembali masuk untuk mencari di mana asal bau ini berasal. Apakah ... Tania? Karena melihat video tadi, aku menjadi berfikir kalau Tania memang sudah meninggal.
Aku mendekat ke sebuah ruangan yang sepertinya kamar mandi. Reno dan Bima seketika menoleh ke arahku.
"Sayang ... Mau ngapain? " tanya Bima.

"Bau busuk di sini ..., " sahutku sambil kutunjuk pintu di depanku.

"Din ... Tania ..., " kata Reno ragu.

"Hm ... Tania udah meninggal, kan?" tanyaku yang sudah yakin akan jawabannya.

"Tapi, Din ... Tania ..., " kata Reno lagi lalu menunjuk komputer di depannya.

Walau jaraknya agak jauh, tapi aku bisa melihat adegan di mana pria pria itu menyeret tubuh Tania yang sudah berlumuran darah ke dalam ruangan ini. Aku kaget. Dan mundur selangkah sambil menatap pintu ini.
Bima mendekat lalu memelukku.
"Jangan, Sayang," bisiknya lalu membawaku mundur lebih jauh. "Ren!! " panggil Bima seolah mengisyaratkan sesuatu.

"Hm ... Iya iya. Gue lagi, gue lagi. " Reno yang paham maksud Bima, merajuk.

Ia melangkahkan kakinya mendekat lalu membuka handle pintu dengan pelan sekali. Sesekali dia menoleh pada kami dengan wajah takut. Aku masih terus bersembunyi dibalik tubuh Bima yang memang tinggi. Bima terus memelukku sambil tetap memperhatikan Reno.

"Buruan sono ah! Liat! " suruh Bima.

Reno melihat ke dalam lalu dengan langkah ragu mulai masuk.

Tik
Tok
Tik
Tok

Tak lama Reno keluar sambil mengerdikan bahunya.
"Kagak ada apa-apa," ujarnya yakin disertai kebingungan juga.

"Yang bener?" Tanya Bima tak percaya.

"Liat sendiri sono!" suruh Reno lalu kembali duduk di depan komputer Tania dan mengklik klik sesuatu.

Bima melepaskan pelukannya lalu berjalan masuk, aku pun mengikutinya. Saat sampai kamar mandi, kami tolah-toleh dan memang keadaan rapi dan bersih. Tidak ada apa pun disini.

"BIMA!! DINDA!! SINI BURUAN!! " teriak Reno panik.

Kami berlari ke Reno. Dia menunjukan video lain. Disana Tania masih hidup dan ada disebuah ruangan pengap. Keadaannya masih sama. Perlahan dia mendekat ke sebuah monitor yang merekam keadaannya.

'Pergi ... Atau mereka akan mendatangimu, sepertiku!' ucapnya dingin.

Kami bertiga terpaku.
"Nggak beres! Yuk ... Mending kita pergi! CABUT! " Kata Reno ketakutan.

Reno yang sudah beranjak lalu ditarik oleh Bima. Bima menatap monitor dengan tatapan kaku.
"Liat tuh! " suruhnya.

Dilayar monitor, terlihat kejadian yang sama seperti sebelum Tania dianiaya. Beberapa pria berbaju hitam datang dan masuk dari pintu bawah.

"Mampus, kan! Kabur!" suruh Reno.

Kami bertiga pun berlari keluar.
"Kita lewat mana? Mereka, kan di lantai bawah! Gimana kita pergi dari sini! " rengekku ketakutan.

(Video) Bayi Tewas di Panti Asuhan, Ini Dia Pemilik Yayasan Tunas Bangsa - BIS 01/02

Bima dan Reno sama-sama berfikir keras. Mereka mondar mandir sambil menjambak rambut mereka sendiri.
Di sini memang tidak ada jalan keluar lain selain pintu utama.

"Lewat jendela!" celetuk Bima yakin.

"Bener juga. Tuh!" tunjuk Reno ke sisi jendela kanan kami.

"Apa? Jendela? Nggak! Tinggi loh! Aku takut ketinggian! " rengekku.

"Elo mau mati kayak sodara elo itu?! " kata Reno kasar sambil menunjuk kamar Tania.

Aku menggeleng cepat

"Ya udah, ayok! " paksa Reno lalu dia turun dari jendela lebih dulu.

"Sayang ... Kamu pasti bisa," bujuk Bima sambil membelai kepalaku lembut.
Kulihat Reno mulai menempel pada dinding dengan berpijak pada sisa tembok yang ada di pinggir gedung. Ukuran pijakan nya tidak terlalu besar, namun pas untuk satu kaki. Dia berjalan turun ke bawah melewati jendela jendela dan pipa pipa air yang ada di pinggir. Sepertinya mudah.

Bima menyuruhku turun lebih dulu. Namun sebelum turun, dia mencium keningku dengan mata berkaca kaca.
"Hati-hati, sayang, " ucapnya pelan.

Aku mengangguk lalu mulai turun perlahan. Saat aku berhasil sampai di lantai bawah, Bima yang akan menyusulku tiba-tiba ditarik seseorang. Dia berteriak, berusaha melepaskan diri dari orang itu.
"BIMA! " teriakku sambil menangis.

Reno berhenti dan sepertinya sama cemasnya sepertiku. Dan kini Bima tidak lagi terlihat. Bahkan suaranya tidak lagi kudengar.
"REN!! KAMU TELPON POLISI! AKU SUSUL BIMA!" Kataku ke Reno yang ada di bawahku.

"TAPI, DIN! BAHAYA! " cegah Reno.

Aku tak menghiraukan perkataannya lalu kembali naik ke atas.
Reno terus berteriak memanggil namaku. Hingga tak kudengar lagi, teriakannya karena aku sudah ada di dalam gedung ini. Lagi.

Sunyi.

Tidak terlihat ada pergerakan apa pun di lantai ini. Aku heran, ke mana perginya semua penghuni di sini? Apakah mereka tidak mendengar kegaduhan yang kami buat?
Kususuri kamar demi kamar, untuk mencari Bima. Aku tidak mungkin meninggalkannya, dia celaka karena aku. Karena dia ikut denganku mencari Tania. Aku tetap tidak bisa menemukan Bima. Aku kini kalut. Tidak bisa berfikir jernih. Tiba-tiba sekelebat bayangan lewat di belakangku. Saat aku menoleh, seperti ada seseorang masuk ke kamar Tania. Aku yang penasaran lalu mengikutinya.

Sesampai di kamar, keadaannya kacau. Berbeda dari saat kami masih ada di sini tadi. Dan... Tania.
Dia terlihat berdiri di depanku dengan kondisi mengerikan. Seluruh tubuhnya penuh luka, bahkan tiap inchi tubuhnya koyak. Bola mata nya tidak ada. Tangannya melambai-lambai padaku. Dan, tiba-tiba dalam sekejap, dia berlari mendekat padaku. Ah, bukan! Bukan berlari! Tapi melayang.

Saat sudah di depanku, wajahnya yang hancur dapat dengan jelas kulihat. Dia menyeringai. Mulutnya terbuka dan mencoba mengeluarkan suara. Tapi, suaranya tidak dapat kudengar. Karena kulihat tenggorokannya sudah tercabik, mungkin pita suaranya rusak. Sekalipun dia tidak bersuara, tapi gerakan mulutnya bisa dengan mudah kutangkap.
Dia seperti berkata, "pergi! Atau kamu akan menjadi korban selanjutnya! "

Jantungku berdegup kencang. Aku takut. Sangat takut.
"Tania ... Bima mana? Aku bakal pergi kalau aku udah ketemu Bima!" mohonku sambil menangis. Kuraih tangan Tania yang juga berlumuran darah. Tania malah menggeleng dan berkata, "PERGI! "

Aku terus menggeleng dan terus bertanya keberadaan Bima. Tiba tiba...

Buuug!

Kepalaku sakit, dan keadaan gelap.

=======

Kepalaku sakit. Suara berisik terdengar ditelingaku.
Dan perlahan kubuka mata.
"Alhamdulillah... Kamu udah bangun, Kak. " kata adikku yang ada disampingku.

Kuamati keadaan disekitarku.
"Aku dimana?"

"Rumah sakit"

"Bima mana? "

"Kak Bima? Hapenya nggak aktif. Kok kakak malah cemasin kak Bima. Kakak nih, yang harusnya mikirin diri sendiri. Kok bisa sih, nyetir mobil sambil ngantuk. Untung masih bisa selamat. " omel adik perempuanku.

"Nyetir? Kapan?" tanyaku sambil mengingat kejadian yang menimpaku.

"Ih kakak pikun. "

Aku tidak mengerti, kenapa aku di Rumah sakit dan mana Bima. Reno?

(Video) KEM4TIAN BATITA ZIKLI MENGUAK FAKTA MENGERIKAN DIBALIK 5 PANTI YAYASAN TUNAS BANGSA RIAUšŸŸ£

"Dek aku beneran nggak ngerti seingetku, aku ke Jakarta nyusulin Tania sama Bima. Terus aku nyari dia dibantu Reno juga.kemana mereka? Bima? Reno?" tanyaku.

"Ih kakak lupa?kakak kan ke Jakarta nyetir mobil sendirian. Terus kecelakaan nih. Jadi aku susulin kesini." jelasnya.

"Hape ku mana?"

Diana memberikan ponsel milikku. Saat ku hubungi Bima, ponselnya tidak aktif. Begitu juga Reno. Pikiranku kalut lagi. Apakah aku berhalusinasi? Tapi, kemana mereka?

Tak lama, ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk.

BIMA!

Sebuah voice note kuterima, kudekatkan ponsel ke telingaku dengan ragu.

'Giliran kamu selanjutnya'

Tanganku gemetaran, suara dari seberang sungguh mengerikan. Kulempar ponselku dan berteriak ketakutan. Diana mendekat dan bertanya ada apa. Tapi, sebelum aku sempat menjawab, pintu kamarku diketuk.

Kami berdua menoleh, saat Diana akan berjalan pintu, aku melarangnya.
"Jangan, Dek! Jangan buka!! " pintaku ketakutan.

"Tapi, kak..., "

"Aku bilang, JANGAN! "

Akhirnya Diana menurut karena melihatku ketakutan seperti ini.

Ceklek

Pintu terbuka sedikit. Beberapa pria berpakaian serba hitam masuk. Diana bingung lalu menatapku.
"Jangan... Jangaaaaaaan...! " teriakku makin kencang dengan beruraian air mata.

"Kak... Mereka siapa?" bisik Diana sambil mendekat padaku.

"Dek!! Kamu masuk ke kamar mandi! Telpon polisi cepet! " suruhku.

"Tapi, Kak! "

"BURUAAAAAAN! "

Diana berlari kekamar mandi, seorang pria yang hendak mengejarnya kulempar dengan vas bunga yang ada disampingku. Tapi karena gerakan Diana yang pelan, mereka mampu membekap nya dan menyeretnya pergi.

"JANGAAAAAAN!! " teriakku.

Pria lain, mendekat padaku lalu membuka masker wajahnya.
"Jangan kamu katakan yang sebenarnya... Atau kamu akan bernasib sama seperti mereka! " ancam pria itu.

Aku melirik ke meja nakas sampingku dan saat pria itu akan menyusul teman-temannya yang sudah pergi kuraih pisau buah dan kutusukkan ke punggungnya.

Jleeeb!
Jleeb!
Jleeeb!

"KALIAN PEMBUNUH!! KUBUNUH KALIAN!! " kutusuk dia dengan brutal.

Anehnya pria itu tidak mati, malah merebut pisau itu dari tanganku dan...

Jleeeeeb!

Perutku ditusuk dalam dengan pisau yang ini. Badanku lemas. Sakit rasanya sekejur tubuhku. Dia berdiri lalu menarik rambutku dan menyeretku keluar kamar. Aku tidak bisa melawan lagi. Dia lalu meletakanku pada ranjang yang ada diluar, yang biasa dipakai membawa pasien. Dan tubuhku ditutupi kain setelah sebelumnya lenganku disuntik.

Sebelum mataku tertutup sepenuh nya, dia berkata. "Sebentar lagi, kamu akan berkumpul dengan mereka. "

Dan, gelap.

(Video) Panti Asuhan yang Ilegal - Aiman Eps 102 bagian 3

Videos

1. Tragedi Panti Asuhan Tunas Bangsa Pekanbaru
(TRANS Food Channel)
2. Memanfaatkan Manusia Lemah - Aiman Eps 102 bagian 5
(KOMPASTV)
3. Kesaksian Mantan Penghuni Panti Tunas Bangsa
(CNN Indonesia)
4. Kekerasan Anak di Panti Asuhan - Kompas Siang 240214
(KOMPASTV)
5. Pelaku Penganiayaan Anak Panti Asuhan di Palembang Ditetapkan Jadi Tersangka
(KOMPASTV)
6. PANTI ASUHAN PALING BEJ4T DI INDONESIA | VIDEO REACTION
(Ruang Gelap)
Top Articles
Latest Posts
Article information

Author: Virgilio Hermann JD

Last Updated: 10/03/2023

Views: 6061

Rating: 4 / 5 (41 voted)

Reviews: 80% of readers found this page helpful

Author information

Name: Virgilio Hermann JD

Birthday: 1997-12-21

Address: 6946 Schoen Cove, Sipesshire, MO 55944

Phone: +3763365785260

Job: Accounting Engineer

Hobby: Web surfing, Rafting, Dowsing, Stand-up comedy, Ghost hunting, Swimming, Amateur radio

Introduction: My name is Virgilio Hermann JD, I am a fine, gifted, beautiful, encouraging, kind, talented, zealous person who loves writing and wants to share my knowledge and understanding with you.